Di Desa Gripit, semangat gotong royong atau yang lebih dikenal dengan istilah “sambatan” telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Sambatan bukan sekadar kegiatan tolong-menolong dalam membangun rumah, memperbaiki jalan, atau membantu tetangga yang sedang hajatan, tetapi juga merupakan cerminan nilai-nilai luhur yang sejalan dengan sembilan nilai antikorupsi.
Dalam setiap kegiatan sambatan, masyarakat Desa Gripit menunjukkan sikap jujur, baik dalam memberikan tenaga, waktu, maupun bahan yang disumbangkan. Tak ada yang disembunyikan, karena semua dilakukan dengan hati terbuka dan niat tulus untuk saling membantu.
Nilai peduli sangat terasa ketika warga bersama-sama turun tangan tanpa pamrih membantu sesama yang membutuhkan. Rasa kebersamaan ini menumbuhkan empati dan memperkuat ikatan sosial antarwarga.
Masyarakat juga menanamkan nilai mandiri, karena sambatan mengajarkan untuk tidak selalu bergantung pada bantuan pemerintah. Mereka percaya bahwa kekuatan dan kemandirian desa tumbuh dari solidaritas warganya sendiri.
Setiap orang yang ikut sambatan memiliki rasa tanggung jawab terhadap hasil kerja bersama. Mereka bekerja sungguh-sungguh, memastikan pekerjaan selesai dengan baik dan bermanfaat bagi semua.
Budaya sambatan juga menumbuhkan semangat kerja keras. Panas terik matahari bukan halangan bagi warga untuk tetap bergotong royong, karena mereka yakin kerja keras bersama akan membawa hasil yang memuaskan.
Kesederhanaan tampak jelas dalam pelaksanaan sambatan. Tidak ada kemewahan, semua dilakukan dengan sederhana, namun penuh makna. Kesederhanaan inilah yang menjaga keikhlasan dan kebersamaan warga.
Nilai berani juga hadir dalam budaya ini, yaitu keberanian untuk berbuat benar dan menolak segala bentuk ketidakjujuran. Masyarakat berani menegur bila ada perilaku yang tidak sesuai dengan semangat gotong royong dan keadilan sosial.
Sambatan juga menanamkan nilai adil, karena setiap warga diberi kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan mendapatkan manfaat. Tidak ada yang diistimewakan, semua bekerja dan menikmati hasil bersama.
Terakhir, budaya ini melatih warga untuk disiplin. Setiap orang datang tepat waktu, bekerja sesuai pembagian tugas, dan menyelesaikan pekerjaan bersama hingga tuntas.
Dengan demikian, Budaya Sambatan di Desa Gripit bukan hanya warisan leluhur yang mempererat persaudaraan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran nyata tentang penerapan sembilan nilai antikorupsi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui sambatan, masyarakat Gripit menjaga semangat kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab yang menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pemerintahan dan masyarakat yang bersih dari korupsi.